Kumpulan Puisi SPHR


Selama pelaksanaan Sekolah Pendamping Hukum Rakyat (SPHR) di 4 daerah dalam wilayah Sulawesi Selatan, dari tanggal 21 Maret – 4 April 2013, tidak hanya penyajian materi, diskusi kelompok, bermain peran, tapi juga mengeksplorasi kesenian dan budaya yang ada hubungannya dengan materi. Hampir setiap lokasi SPHR dengan latar belakang isu dalam pengelolaan sumberdaya alam/agraria seperti Dongi, Uraso, Compong dan Takalar ternyata membawa inspirasi untuk berkarya melalui puisi.
Dongi, 22 Maret 2013 025

Temaram

Temaram
Basah karena hujan
Bangunan kayu menyerupa warung di pinggir jalan
Meja panjang tempat kopi hitam terhidang
Sepiring pisang goreng yang hanya tersisa dua batang

Pada mulanya terdengar derai tawa
Antar-sahabat yang berhati senang karena bersua
Tapi entah kenapa, temaram
Hati mulai gundah tanpa sebab

Lalu berceritalah Oma
Wajahnya masih menyiratkan kecantikan masa lalu
Bertutur dengan lancar meski tanpa senyum
Mungkin karena telah banyak ditanya (maaf Oma, kami ulangi lagi pertanyaan usang itu)

“Itu perkampungan kami yang lama” ujar Oma,
Pandangannya mengarah pada hamparan gelap padang luas di samping warungnya
Kampung lamanya telah menjelma lapangan golf
Tempat para pejabat perusahaan dan “member” memukul-mukul bola (yang seringkali melayang ke atas atap)

Kata Oma, sejak zaman Belanda kampungnya telah tertata elok
Ada jalan keras, klinik, dan juga gereja
Sejak tahun 714 Sebelum Masehi mereka sudah ada
Suku Karunsi’e, kamilah penghuni pertama

Kuburan batu di gunung dan pinggir danau menjadi saksi mereka
Di mana tulang-belulang berkelindan dengan harta
Terhampar emas dan pedang berbisa
Apa daya, keserakahan tiba
Gua digusur, harta digondol
Mulailah mereka diistirahatkan di bawah tanah
Dibuang ke sungai

Lalu datanglah gerombolan ganas itu, tahun lima tiga
Rumah dan lumbung menyala nyalang di mata seorang anak lima tahun
Orang-orang terhambur sambil hanya membawa belanga
(dan piring, dan apapun yang lain, yang terbawa oleh tangan)

Menyeberang danau, mereka mencari suaka
Dua tahun berlalu, malam-malam mereka dijemput
‘Tentara Kota,’ Oma menyebutnya
Ia bukan lagi gadis kecil berusia lima tahun
Mengendap-endap mereka, menghindari keganasan gerombolan
Tanpa ada sesuatupun yang sempat dibawa
(malam itu lebih sial lagi, kata Oma)

Ke Malili mereka pergi, hanya tiga purnama saja
Entah siapanya Mangkubumi, mereka lalu berpindah ke Mangkutanah
Tidak juga bisa menarik napas lega
Gerombolan Ganas tak juga jera mengambil nyawa

Dua tahun mereka tahankan
Sebelum kembali mereka menyeberang
Ke Morowali mereka lari
Sebagian hidup aman hingga kini

Puluhan tahun berlalu
Beberapa orang merindu
Mencari kabar, ingin kembali
Separuh ke Sorowako, separuh mendatangi Wasponda

Era reformasi dijelang
Oma kembali pulang
Dari satu rumah menjadi lima puluh dua rumah
Mencoba kembali menjahit rentangan keluarga

Entah kenapa, entah siapa yang menggurat
Suratan tentang penindasan terlanjur berurat
Tiga belas tahun mereka tak dibiarkan hidup damai
Perusahaan dan selingkuhannya terus menyemai, benci belum usai

“Dilarang tinggal di sini. Ini tanah perusahaan,” mereka menggertak
Datangkan polisi, lengkap dengan bonus intimidasi
Bergeming mereka, berseru “Ini tanah leluhur kami!”
Bertahan mereka, meski masa depan belum pasti
Namun yakinlah
Bersama kasih Tuhan,
Mimpi pasti terjadi.

Anggi
Dongi, 20 Maret 2013

Tidak Perlu

Tidak perlu memahamkan
masyarakat akan penindasan
yang mereka rasakan!
Itu makanan mereka
Mengalir di pembuluh darah mereka
sehari-hari!
Yang harus kau cari adalah
Cara untuk menciptakan resonansi
Dengan alam pemikiran dan perasaan mereka
Perkuat suara mereka,
Topang riak perjuangan mereka
Kau harus temukan cara
Atau empati yang kau tawarkan
Hanyalah empati turis yang salah tempat?

Dongi

Disini aku belajar banyak hal
Disini aku menggunakan nuraniku dengan baik
Disini aku benar-benar menggunakan kedua mataku
Disini aku melihat penerimaan yang ihklas
Disini aku melihat pengharapan
Disini aku melihat kepercayaan
Namun…….
Disaat yang sama aku pun melihat kegelisahan

Disini….
Rasaku berbicara, harapan itu akan ada selamanya,
Hingga nafas terakhir dihembuskan
Rasaku berbicara, semangat begitu kuat

Disini aku semakin yakin, tak ada kemiskinan
Yang ada hanyalah dimiskinkan
Disini aku semakin yakin, tak ada rasa takut
Yang ada hanyalah ditakut-takuti
Di sini pula-lah, harapanku dan harapan mereka kupadukan
Harapan akan keadilan, kepemilikan, kebebasan, kedaulatan, dan kemerdekaan.
Semoga.

Rais
Dongi, 21 Maret 2013

Belum ada judul (silahkan diberikan judul)

Kau hangat dalam derai hujan
berpacu angin berteman debu
hawa panas jadi penyejukmu
kau sususri duri duri disetapak jalanan
tegar kuat berdiri
Atas nama advokasi keadilan dan cinta

kau ulas buku buku keadilan
kau belajar kearifan kearifan hidup
bekal sempurna untuk  kebahagian
bukan hanya untukmu
tetapi  juga  untuk rakyat

kau lantang berteriak
tak ada dominasi negara
tampa dasar keadilan dan kemanusiaan
engkau kesatria bijak
untuk alam dan manusia
engakau mengasikkan diri ,
dengan tenang dalam pemberontakan
menyatukan hening dengan keramaiaan.

engkau hidup didunia badai kerakusan
tampa mau berdamai dengan nafsu kekuasaan.
demi kelestarian hukum kemanusiaan dan penghuni semesta.

‘’Dongi’’
Hajar Alfarizi

Naomi, werima, berjuang diwaktu senja,
Di dongi, mereka menderma,
Dikampung tua itu, perjuangan berirama
Demi Hak, Urung menghibur diri,
Beda yang berada, dikala tua,

Dikala senja, dongi menabur cerah.
Pepohonan, satu , dua melambai,
Dibaruga, kentong masih ditabuh
Isyarat didongi, setia merajut asa.

Naomi, werima saudara tak berpisah.
Semua warga, menyimpul semangat.
Masih ada tanya, kita dimana,
Bersama bergerak, tak ada curiga

Kecurigaan itu, karena salah pendengaran.
Dan jawaban tanya, ada dinurani
Intinya moral adat, kata Om gulit,,,,

Semangat membias, disenja dongi
Dibaruga dongi . Menyusup luka senyap
Getar juang menyusup. Naomi , werima,

Jika Air danau matano, mengguyur simpul darah
Cinta itu, tidak akan terputus
Di dongi itu, asa mesti berjodoh dengan rakyat.

Antara Naomi, werima bersama warga.
Satu kata, mesti berjuang bersama
Semua itu untuk hak, karena mereka terasing.

Jumat, 29 Maret 2013

2 pemikiran pada “Kumpulan Puisi SPHR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s