Belajar Bersama Pertanian Alami Antar Petani Luwu Raya-Bulukumba


Laporan: Aswin Sakke (Koordinator Divisi Pengembangan Ekonomi Kerakyatan Perkumpulan Wallacea)

DSC00143Pertanian Organik merupakan konsep bercocok tanam dengan mengandalkan daya dukung ekosistem. Penamaan pertanian organik yang paling familiar, selain itu ada juga yang menamakan pertanian alami atau natural farming. Belakangan ini pertanian organik mulai memikat petani untuk melakukannya.

Konsep pertanian organik diperkenalkan oleh Perkumpulan Wallacea kerjasama Samdhana Institute kepada komunitas yang bermukim di Wilayah Luwu Raya pada 9-13 September 2014 melalui ‘’Pelatihan Petani Tanaman Kakao Terpadu yang Ramah Lingkungan Se Tana Luwu’’. Saat itu komunitas yang hadir berasal dari Kambo Kota Palopo, Santandung, Salu Jambu, Lamasi Kabupaten Luwu, dan Uraso Kabupaten Luwu Utara. Selepas pelatihan, setiap komunitas mengimplementasikannyan di lokasinya masing-masing yang relatif bisa dilakukan sesuai kondisi dan keterbatasan pelatan yang dimiliki. Seperti pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), Pembuatan Mikro Organisme Lokak (MOL) beserta pengembangannya, dan Pembuatan Kompos.

Kami dari beberapa komunitas di Luwu Raya menyadari pengalaman pertanian organik yang masih terbatas, masih seumur jagung karena mengenal pertanian organik baru 3 bulan, itupun saat pelatihan. Untungnya, Pak Subali yang jadi narasumber kami saat pelatihan selalu komunikasi -meskipun jarak jauh lewat telepon- dan memberikan asistensi setiap kami mengimplementasikan cara-cara pertanian organik sehingga sangat membantu. Kami pun tidak segan-segan bertanya ketika menghadapi masalah teknis.

Bermula dari situlah ketertarikan terhadap pertanian organik semakin besar, dan terus menambah pengalaman dan pengetahuan, hingga kami mendapat kesempatan lagi untuk berbagi pengalaman dan belajar bersama dengan masyarakat Desa Salassa Kabupaten Bulukumba tentang pertanian organik. Mereka memang jauh lebih maju dalam hal penerapan pertanian organik dari kami. Sudah masuk tahun keempat masyarakat Desa Salassa mengimplementasikan pertanian organik secara terpadu.

Sistem pertanian organik yang dilakukan di sana disebut Pertanian Alami atau Natural Farming. Tapi pada substansinya sama, yaitu bertani atau bercocok taman dengan mengandalkan alam atau ekosistem. Semua perlakuan terhadap tanah dan tanaman sama sekali tanpa pupuk kimia. Penerapan teknologi pertanian alami yang terpadu karena satu kesatuan antara pengembangan ternak, pengembangan tanaman pangan/padi, sayur-sayuran, pembuatan pupuk organik, pupuk kompos, jaringan usaha, dan pengembangan organisasi/kelembagaan.

Yang pertama harus dibangun dalam pertanian alami, adalah bagaimana melihat dan memahami unsur-unsur yang terkandung dalam tanah. Ternyata kondisi tanah perlu dinetralisir atau diperbaiki dulu sebelum memulai sistem pertanian organik/pertanian alami. Alasannya, selama ini tanah sudah terkontaminasi dengan zat-zat kimia akibat pemakaian pupuk kimia yang lazim dilakukan.

Kami pun akhitnya tahu bahwa air laut adalah bahan penetrasilir tanah yang paling ampuh. Kenapa memakai air laut? Jawabannya sangat logis, jutaan tahun yang lalu bumi ini, termasuk tanah, pernah tenggelam saat masa Nabi Nuh AS, sehingga air laut lah yang jadi penetralisir tanah dari kandungan zat kimia. Hanya saja, setelah dinetralisir dengan air laut, jangan lagi dan jangan sekali-kali menggunakan pupuk kimia (herbisida atau pestisida). Kemudian, rumput -rumput yang kering cukup di hamburkan saja di kebun hingga membusuk sampai menghasilkan microba (microorganisme lokal). Jika air laut tidak ada, alternatifnya dengan memakai air garam.

Hasil belajar dari Desa Salassa tentang sistem pertanian organik/pertanian alami ditambah pengetahuan dan pengalaman pertanian organik yang sebelumnya kami terima, membuat kami semakin optimis akan masa depan PERTANIAN ORGANIK/PERTANIAN ALAMI atau NATURAL FARMING. Harapan dari tulisan singkat ini bisa menghilhami petani lainnya untuk mencoba Sistem Pertanian Organik/Pertanian Alami untuk pemulihan serta menjaga keseimbangan alam/ekosistem. Apakah kita belum menyadari bahwa alam ini telah menelan jutaan ton racun kimia? Kita prihatin, kita berpikir, dan KITA KERJA (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s