Latar Belakang

Konsekuensi dari berbagai aktivitas manusia yang bersifat eksploitatif yang berlebihan dan pencemaran lingkungan menempatkan ekosistem dalam posisi bahaya. Realitas yang terjadi dan paling dirasakan adalah terabaikannya aspek kelestarian dan keberlanjutan Sumberdaya Alam akibat dari pemanfaatan yang berorientasi pada aspek peningkatan ekonomi / investasi. Sementara masyarakat yang hidup dengan menggantungkan hidupnya dari potensi kekayaan Sumberdaya Alam dan Keanekaragaman Hayati tidak pernah luput dari persoalan kemiskinan dan keterbelakangan.

Kepentingan pemanfaatan dengan mudah bisa saja berbelok menjadi eksploitasi sementara kesadaran dan komitmen Pelestarian Sumberdaya Alam sulit untuk dipastikan, yang berdampak pada harmonisasi kelangsungan hidup manusia dan lingkungannya semakin jauh dari harapan.

Sementara eksistensi kearifan tradisional belum mendapat tempat yang setara dalam paradigma pembangunan yang dikembangkan selama ini, bahkan kecenderungannya terjadi stagnasi yang sengaja diciptakan untuk melemahkan dan mengisolir paradigma  yang bertumpu pada kearifan tradisional dalam struktur social, ekonomi, politik, hukum dan kelembagaan yang mengakibatkan terjadinya proses penghancuran kearifan-kearifan tradisional yang ditandai dengan perubahan tatanan social humanis, kemiskinan moral, serta sipat dan sikap ketergantungan yang bermuara pada hilangnya kemandirian dan terdegragasikannya Sumberdaya Alam dan Keanekaragaman Hayati sebagai pendukung kehidupan manusia.

Berangkat dari perspektif dan realitas tersebut memotivasi munculnya suatu keinginan dari beberapa kalangan Non Goverment Organization (NGO), Mahasiswa, Masyarakat serta Akademisi untuk mengaktualisasikan keprihatinan dan kepeduliannya dalam bentuk karya nyata. Kesadaran akan hal tersebut menjadi pijakan yang mendasari terbentuknya WALLACEA sebagai suatu institusi yang memiliki dasar hukum yang jelas.

Perspektif dan realitas tersebut memotivasi munculnya suatu keinginan dari beberapa kalangan Non Goverment Organization (NGO), Mahasiswa, Masyarakat serta Akademisi untuk mengaktualisasikan keprihatinan dan kepeduliannya dalam bentuk karya nyata. Kesadaran akan hal tersebut menjadi pijakan yang mendasari terbentuknya WALLACEA sebagai suatu institusi yang memiliki dasar hukum yang jelas.

WALLACEA didirikan pada Tanggal 05 Juni 2000, berkedudukan di Kabupaten Luwu atau lebih akrab dikenal dengan nama Bumi Sawerigading yang kemudian di Akta Notariskan pada Tanggal 04 Januari 2001 dengan Nomor Akta 11 oleh Rahayu Sri Dewi, SH, Candidat Notaris pada Kantor Notaris – PPAT Zirmayanto, SH. Dalam perjalanannya WALLACEA kemudian berubah menjadi sebuah perkumpulan yang selanjutnya disebut Perkumpulan WALLACEA Palopo berdasarkan hasil rapat pengurus tertanggal, 15 dan 18 Mei 2010.

Perbaharuan Akte Notaris karena adanya perubahan  bentuk organisasi menjadi Perkumpulan dengan Nama Wahana Lingkungan Lestari Celebes Area yang kemudian disebut Perkumpulan Wallacea  pada Tanggal 05 Juni 2013 dengan Nomor Akta 15 oleh Notaris H. Zirmayanto, SH. Hal ini didasari atas perkembangan dan dinamika organisasi yang sekaligus untuk lebih membuka ruang bagi keterlibatan berbagai kalangan serta terciptanya akuntabilitas organisasi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s